Bola Bulat



                        Sepak bola termasuk olahraga populer di zaman ini. Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Bambang Pamungkas termasuk pemain sepak bola yang banyak dikenal orang-orang Indonesia, walaupun Bambang Pamungkas sudah pensiun dalam karirnya. Tapi perjuangannya membela tim dan negara selalu diingat banyak rakyat Indonesia. Fajar dan Awan adalah seorang pelajar di Kota Surabaya yang bersekolah di sekolah yang sama di daerah komplek pelajar. Awan sangat suka dan mengikuti perkembangan sepak bola. Fajar sangat kutu buku dan tidak tertarik dengan olahraga apapun.
                        Suatu saat di tengah tahun ada pertandingan Timnas Indonesia melawan Timnas Malaysia. Suatu pertandingan yang ditunggu-tunggu. Bisa dibilang ini el clasico nya Asean. Awan berusaha mengajak Fajar nonton pertandingan itu.
                        “Oi, Jar, ayo ntar malem nonton Timnas main.” Ajakan Awan.
            “Emang apa serunya? Aku ntar malem juga mau nyelesaiin tugas trigonometriku.” Balas Fajar.
                        “HAH.” Awan kaget. “Emang kita udah sampe bab trigonometri?”
                        “Hehe enggak, tapi aku mau belajar.” Balasan Fajar sambil meringis.
                        “Ayolah nonton bareng, Jar.” Kata Awan. “Trigonometri mah bisa kapan aja.”
                        Dengan sedikit pertimbangan akhirnya Fajar mengiyakan untuk nonton Timnas bareng di rumah Awan. Rumah Awan lumayan ramai malam itu. Ada tetangga-tetangga Awan dan teman Ayah Awan yang ikut nonton di rumahnya.
                        Otak Fajar gagal menerima pertandingan olahraga yang dilihatnya. Setiap bola menggelinding, yang di otaknya hanya ‘berapa volume bola itu’ atau ‘berapa kecepatan tendangannya’. Fajar tidak tertarik dengan pemain sepak bola atau cara bermainnya. Di matanya, seluruh pertandingan itu mengeluarkan pertanyaan matematika yang sangat banyak.
                        Piala dunia sepak bola akan dilaksanakan 1 bulan lagi. Banyak orang yang excited menunggu piala dunia yang bertuan rumah Qatar itu. Bu Melati guru sekolah Awan dan Fajar memberikan tugas kepada murid-muridnya tentang sepak bola, yang kebetulan sebentar lagi ada piala dunia. Awan senang mendengar tugas tersebut. Fajar sebaliknya, ia yang tidak suka olahraga merasa kesal. Tapi tiba-tiba Bu Melati mengulangnya perkataannya.
“Sebagai tugas untuk masa-masa piala dunia, kalian diharap mengobservasi atau memperhatikan pertandingan sepakbola minimal tiga pertandingan. Dan ada tambahan yang belum saya sampaikan. Yaitu dengan melakukan perhitungan matematika di setiap pertandingan. Contohnya menghitung volume bola yang digunakan atau menghitung kecepatan tendangan satu pemain. Tugas ini diberikan agar kalian dapat menikmati piala dunia dan juga tetap belajar. Terima Kasih.”

                        Awan yang awalnya senang mendengar tugas yang diberikan Bu Melati menjadi kesal. “Kenapa harus ada matematika sih.” Gumam Awan dengan kesal. Fajar sebaliknya. Ia bersemangat melakukan tugas itu. Ia sangat senang berhitung dan memecahkan masalah. Meskipun itu di dalam pertandingan olahraga, menurutnya tak masalah.
                        Piala dunia sudah dimulai. Awan dan Fajar selalu nonton di rumah Awan setiap pertandingannya. Di tiga pertandingan awal, Fajar telah menyelesaikan tugas yang diberikan Bu Melati terhadapnya. Isi tugasnya adalah menghitung volume bola, menghitumg kecepatan bola yang ditendang, dan menghitung kecepatan berlari pemain. Sedangkan fajar belum menyentuh tugasnya sama sekali.
                        Pertandingan semakin habis dan tinggal semifinal dan final dari piala dunia. Awan semakin kebingungan karena tugasnya belum ada satupun yang ia kerjakan. Fajar pun menanyakan kepada Awan.
“Wan, kamu kenapa? Kok keliatan kebingungan gitu.” Tanya Fajar.
“Emmm, Jar, Bisa minta tolong gak? Kasih tau tugas yang dikasih bu Melati dong.” Kata Awan. “Aku belum sama sekali, tapi pertandingan tinggal sedikit.”
“Lah, bukannya kamu suka sepakbola ya?” Tanya Fajar.
“Kan aku suka permainan sama pemainnya, Jar. Kalau disuruh hitung-hitung begini aku mah gak bisa dan gak tau.” Awan memberi jawaban.
“Aku kasih tau rumus-rumusnya aja ya, Wan.” Tawaran Fajar kepada Awan.
“Iya deh gak papa, Jar.” Awan menerima. “Sisa tiga pertandingan ini kukerjain.”
Fajar pun mengajari dan menjelaskan.
“Yang pertama itu rumus volume bola. Rumusnya itu 4/3 × π × r³. Jadi kamu harus tau jari-jari bola itu terus tinggal masukin rumusnya. Contohnya kalau jari-jari bolanya 14 cm maka volumenya. 4/3 × 22/7 × 143 = 11.498,66 cm3.”
“Yang kedua menghitung kecepatan bola yang ditendang dalam km/j. Kamu tinggal menghitung jarak bola setelah ditendang sampai berhenti dan menghitung berapa waktunya. Misal Neymar menendang bola sejauh 13 meter dalam 0,5 detik maka kecepatan bolanya adalah 26m/s atau 93,6km/jam.
“Yang ketiga menghitung kecepatan berlari pemain dalam m/s. Ini sama seperti menghitung kecepatan bola. Misal Pogba berlari 54 meter dalam 6 detik maka kecepatan berlari Pogba adalah 9m/s.”
Fajar menjelaskan sambil menggambarkan dan menulis rumusnya dikertas agar Awan paham dengan apa maksudnya. Setelah Awan paham, ia melihat dua pertandingan semifinal dan pertandingan final dengan mencatat semuanya. Tugas Awan dan Fajar selesai. Mereka akhirnya mendapat pengalaman dengan menikmati sepakbola tetapi tetap belajar.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Lainnya