Awan
Seorang lelaki duduk di kursi taman sore ini. Ditemani kopi dengan gelas plastik yang baru dibeli di coffeshop dekat taman, bersama pikiran yang membungkam mulutnya. Sudah tujuh hari dirinya lelah memikirkan hal tidak penting. Ia selalu ingin berguna bagi dunia, tapi itu hanya angan-angan. Rumahnya baginya bukan tempat tinggalnya. Hanya tempat menaruh badan disaat selesainya hari dengan hiruk pikuknya dunia. Segala urusan dunia yang dikerjakan rasanya tak pernah berhenti. Satu masalah pergi, masalah lain datang. Hingga senja datang, ia kembali pulang.
Ia bersiap memulai harinya lagi. Pagi hari datang, berangkat kerja lalu pulang. Tak ada hentinya setiap hari. Dulu tujuannya adalah menjadi kaya. Tapi sekarang berbeda. Ia hanya ingin bahagia. “Apa enaknya hidup monoton begini. Aku lelahhhhhh.” Katanya dengan nada agak marah dan putus asa. Lalu dia teringat sahabatnya yang sudah lama meninggal.
Tujuh tahun yang lalu dia sedang di warung kopi bersama sahabatnya itu. “Jar, aku gabut banget hari ini. Mumpung ulangan seminggu lagi, mending kita riding ke luar kota deh.” Katanya tiba-tiba kepada temannya bernama Fajar. “Boleh sihhhhhh, tapi kemana wan.” Balas Fajar.
“Aku ingin mengerti arti nama ‘Awan’. Kenapa orang tuaku memberi nama itu padaku. Bagaimana kalau kita pergi ke Kota Gunung? Di sana awan terlihat jelas, gak ada polusi.” Saran Awan kepada sahabatnya. Fajar mengiyakan lalu mereka berangkat.
“Aku ingin mengerti arti nama ‘Awan’. Kenapa orang tuaku memberi nama itu padaku. Bagaimana kalau kita pergi ke Kota Gunung? Di sana awan terlihat jelas, gak ada polusi.” Saran Awan kepada sahabatnya. Fajar mengiyakan lalu mereka berangkat.
Dua motor melaju cepat menuju Kota Gunung. Sampai di gunung tengah hari. Mereka lama berbincang sambil melihat awan dan berteduh dibawah pohon. Obrolan dalam yang mereka lakukan membuat lupa waktu sampai matahari turun dan menghilang dari bumi. Ada salah satu obrolan yang paling dia ingat saat itu.
“Jar, aku ingin sukses nantinya. Tapi aku juga ingin kamu sukses.” Kata Awan.
“Mungkin orang tuamu ngasih nama ‘Awan’ agar kamu sukses, wan. Tempat Awan emang selalu di atas kan?” Jawaban dari Fajar.
“Kamu bener jar.” Awan mengaminkan. “Tapi aku ingin di atas bareng kamu.”
“Aku selalu di belakangmu kok wan. Kubantu dorong sampai ke puncak. Hahahaha.” Balasan candaan Fajar.
Seketika air mata Awan menetes ketika sedang melamun. Semua kenangannya bersama Fajar kembali diingat di sore harinya yang lelah. Apalagi kabar meninggalnya Fajar karena penyakitnya satu bulan setelah ke Kota Gunung.
“Aku lelah mengeluh, sementara temanku melihatku di alam sana. Apa dia gak kecewa kalau tau aku berputus asa dalam hidup.” Kata hati Awan.
Malam datang. Awan lebih jatuh. Tapi ia sadar, ia harus bangkit. Dihapus air matanya, tidurlah dia. Awan menjalani hari esok dengan semangat. “Mungkin benar jar, kamu selalu dorong aku dari belakang. Gimana pun caranya, walau dari alam sana.” Kata Awan sambil melihat langit. Awan pun bekerja sekeras mungkin. Jika lelah, ia selalu ingat Fajar. Ia ingin membanggakan Fajar. Akhirnya ia bisa sukses dan bahagia.
Komentar
Posting Komentar